Anak tuannya (Chamidah, 2009). Beberapa kondisi anak yang

Anak
merupakan individu yang unik, dimana anak akan mengalami proses pertumbuhan dan
perkembangan secara optimal sesuai dengan usiannya, dan mempunyai kebutuhan
yang berbeda-beda antara satu anak dengan anak yang lainnya. Pertumbuhan dan
perkembangan ini akan berjalan pada pola tertentu dan koheren yang setiap
perubahannya akan mempengaruhi fungsi pada anak tersebut. Pertumbuhan dan
perkembangan ini juga akan lebih optimal jika didukung dengan lingkungan yang
kondusif. Namun, bagi anak yang sakit proses pertumbuhan dan perkembangan ini
mengalami hambatan yang akan berdampak langsung bagi anak tersebut maupun orang
tuannya (Chamidah, 2009).

Beberapa
kondisi anak yang sakit membuat mereka membutuhkan pelayanan kesehatan dan
harus menjalani hospitalisasi. Hospitalisasi merupakan suatu proses yang
mengharuskan anak untuk dirawat di Rumah Sakit karena suatu kondisi pada anak
tersebut untuk mendapatkan perawatan atau terapi medis selama beberapa hari
sampai anak dipulangkan ke rumah (Supartini, 2004). Menjalani hospitalisasi dapat
menjadikan pengalaman buruk yang dirasakan bagi mereka, sebab selama menjalani
hospitalisasi anak tidak bisa bermain aktif dengan teman sebanyanya. Selain
itu, berada di lingkungan baru, bertemu dengan petugas kesehatan, melihat
alat-alat kesehatan atau medis, dan menerima tindakan pengobatan atau perawatan
akan membuat mereka menjadi stres ataupun cemas dan hal ini akan berdampak pada
perkembangan anak (Nursalam & Utami, 2013).

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Anak
akan bereaksi terhadap penyakit yang dialaminya dan semua tindakan invasif yang
diberikan saat menjalani hospitalisasi. Tidak jarang tindakan yang diberikan
pada anak akan menimbulkan rasa nyeri. International
Association for the Study of Pain (IASP) menyebutkan bahwa individu akan
mengalami rasa sensorik dan emosional yang dapat membuat ketidaknyamanan dan
tidak menyenangkan pada bagian yang nyata maupun potensial terjadinya kerusakan
jaringan. Menurut Asosiasi Diagnosis Keperawatan Amerika Utara, nyeri merupakan
kondisi dimana individu merasakan dan melaporkan ketidaknyamanan yang parah,
dengan pelaporan berupa komunikasi verbal langsung ataupun dengan bahasa tubuh (Kumar & Elavarasi, 2016). Nyeri yang
dirasakan oleh anak pada saat menjalani hospitalisasi mungkin dapat disebabkan
oleh penyakit yang dialami, pengobatan, prosedur invasif. Rasa nyeri ini dapat
bertambah buruk yang dapat disebabkan oleh cemas, takut dan ketidakpastian.
Beberapa tindakan atau prosedur invasif yaitu penusukan vena (infus,
pengambilan sampel darah dan pemberian obat) dan balutan luka (Silva, Pinto, Gomes, & Barbosa, 2011). Pengalaman nyeri
yang dirasakan akan diingat oleh anak dan hal ini juga membuat anak menjadi
menarik diri ketika hendak dilakukan tindakan tersebut.

Anak
akan berespon terhadap nyeri yang dirasakannya, seperti berteriak atau meringis
keras, mengungkapkan secara verbal, memukul tangan atau kaki, menghindari atau
mendorong sesuatu yang menyebabkan nyeri, meminta untuk mengakhiri tindakan
yang membuat nyeri, kurang kooperatif, menempel atau berpegang pada orang tua,
atau pada orang yang terdekat, membutuhkan dukungan emosi seperti pelukan dan
antisipasi terhadap nyeri aktual (Hockenberry & Wilson, 2007 dalam Anggreda
& Khusnal, 2015). Hal ini akan membuat petugas kesehatan terutama perawat
mengalami kesulitan dalam melakukan asuhan keperawatannya kepada anak.

Perawat
merupakan tenaga kesehatan yang paling sering kontak atau berinteraksi langsung
dengan pasien dan juga merupakan tenaga profesional yang memiliki kemampuan,
tanggung jawab dan kewenangan dalam melaksanakan pelayanan atau asuhan
keperawatan yang ditujukan pada individu, keluarga maupun masyarakat atau
kelompok dan didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan (Kusnanto, 2004). Maka dari itu, perawat harus mampu
untuk mengidentifikasi nyeri yang dirasakan oleh anak karena tidak semua anak
dapat melaporkan nyeri secara verbal. Reaksi nyeri yang dirasakan pada setiap
anak berbeda-beda dan bagi anak juga sulit untuk memahami tentang nyeri yang
dirasakannya. Perawat yang dapat berinteraksi dengan baik kepada anak akan
menimbulkan kenyamanan bagi mereka dan dapat membuat anak percaya kepada
perawat ketika hendak dilakukan tindakan. Hal ini sangat membantu perawat dalam
mengidentifikasi intervensi yang tepat kepada anak. Selain itu, peranan perawat
dalam meminimalisir nyeri yang dirasakan oleh anak sangatlah penting untuk
dilakukan.

Manajemen
nyeri yang dilakukan oleh perawat bertujuan untuk membantu meredekan nyeri yang
dirasakan oleh anak dan merupakan aspek yang sangat penting dalam memberikan
asuhan keperawatan pada anak. Manajemen nyeri dilakukan dengan pemberian
intervensi berupa penanganan farmakologi atau kolaboratif maupun dengan nonfarmakologi
atau independen. Manajemen nyeri secara nonfarmakologi atau independen dapat
berupa pengaturan posisi, istirahat, pengaturan posisi fisiologis, pengaturan
posisi dengan fiksasi atau dengan imobilisasi, teknik relaksasi dan distraksi,
kompres, manajemen dengan sentuhan, manajemen lingkungan, dukungan perilaku,
dan dukungan orang tua atau orang terdekat. Manajemen nyeri secara farmakologi
atau kolaboratif dapat berupa pemberian analgesic dengan memperhatikan rute
pemberian, yaitu parenteral, oral, rektal, transdermal, dan intraspinal (Muttaqin, 2011).  

Pemberian
intervensi yang tepat pada anak dapat memberikan rasa nyaman dan mengurangi
stres bagi anak maupun orang tua. Kemampuan perawat mengenai intervensi
manajemen nyeri dipengaruhi oleh pengetahuan dan sikap perawat. Pengetahuan
menurut Notoatmodjo (2012) dalam (Saifullah, 2015) yaitu hasil tahu dari manusia setelah
orang mengadakan pengindraan terhadap suatu objek melalui panca indra manusia
dan telah terjadi. Pengetahuan ini menjadi bagian yang sangat penting dalam
membentuk tindakan seseorang. Sedangkan sikap merupakan reaksi ataupun respons
dari seseorang yang masih tertutup terhadap suatu objek tertentu (Notoatmodjo, 2012).

 Pengetahuan perawat perlu untuk memahami rasa
nyeri yang anak-anak alami, sehingga dapat mengenali, menilai dan mengelola
rasa nyeri dengan berbagai metode yang dapat meningkatkan kualitas manajemen
nyeri yang diberikan. Manajemen nyeri ini dapat diterapkan oleh perawat dari
pelatihan, hasil penelitian-penelitian atau rekomendasi sebelumnya mengenai
manajemen nyeri. Menurut Gimbler dalam Carter & Simons (2014) bahwa cara
perawat dalam melakukan pain management
pada anak hospitalisasi dipengaruhi oleh kerja samanya dengan perawat antar
perawat, perawat dengan tenaga kesehatan lain, perawat dengan orang tua anak,
perilaku anak, serta pengalaman dan pengetahuan anak. Sikap perawat pun juga
sangat mempengaruhi dalam manajemen nyeri yang diberikan. Sikap perawat yang
positif dalam penilaian dan pandangan terhadap nyeri yang dirasakan oleh anak
dapat meningkatkan kualitas asuhan keperawatan yang diberikan.

Berdasarkan
Survei Kesehatan Nasional tahun 2010 yang dikutip oleh Apriany (2013) bahwa
angka kesakitan pada daerah perkotaan berdasarkan kelompok usia 0-4 tahun
sebesar 25,8%, usia 5-12 tahun sebanyak 14,9%, kelompok usia 13-15 tahun
sebanyak 9,1%, dan kelompok usia 16-21 sebanyak 8,13%. Apabila dihitung dari
keseluruhan jumlah penduduk, angka kesakitan anak usia 0-21 tahun sebanyak
14,44%. Dari jumlah total penduduk di Indonesia, jumlah anak usia pra sekolah
yaitu sebanyak 72% dan sekitar dari 35/100 anak menjalani hospitalisasi.
Berdasarkan penelitian oleh Steven, et al
pada tahun 2012 dalam Carter & Simons (2014) bahwa anak-anak hospitalisasi
di 8 Rumah Sakit Anak di Canada dan selama 24 jam penelitian terdapat 18.929
prosedur yang dicatat dan 87% dari anak mengalami satu atau lebih prosedur yang
menimbulkan nyeri. Selain itu, berdasarkan hasil statistik terdapat 49-64%
anak-anak hospitalisasi menerima manajemen nyeri yang tidak memadai (Ortiz, et al., 2015).

Keberhasilan
dalam mengatasi nyeri berkaitan dengan pengetahuan dan sikap perawat dalam
melakukan manajemen nyeri. Penelitian yang dilakukan oleh Ayla Yava, et al.
pada tahun Mei 2010 di Turki, menemukan bahwa dari 246 perawat yang menjawab
pertanyaan dengan benar berdasarkan instrument NKASRP yaitu sebanyak 39,65%
(pengetahuan rendah), namun untuk sikap perawat menunjukkan bahwa perawat
memiliki sikap positif untuk manajemen nyeri pada anak kanker (Yava, Çicek, Tosun, Özcan, Yildiz, & Dizer,
2013).
Penelitian lainnya oleh Ortiz, et al pada tahun 2015 di Mexico, pada 111
perawat anak dan 300 mahasiswa Keperawatan menemukan bahwa pengetahuan dari
kedua kelompok tentang manajemen nyeri sangat rendah. Nilai terakhir jawaban
benar berdasarkan instrument PNKAS (Pediatric
Nurses Knowledge and Attitudes Survey Regarding Pain) yaitu 40.1 (SD 7.9)
dan 40.3 (SD 7.5) (Ortiz, et al., 2015). 

Pengetahuan
yang kurang dan sikap yang negatif pada perawat mengenai managemen nyeri ini
dikarenakan beberapa hambatan. Menurut Vincent hambatan pada perawat salah
satunya berupa tidak adekuatnya perintah dari dokter, hal ini dirasakan pada
99% perawat (Ortiz, et al., 2015). Selain itu menurut
Waddah Mohammad D’emeh, et al. hambatan lain pada perawat juga dapat berupa
perawat tidak mau menghubungi dokter untuk pemberian manajemen nyeri berupa
farmakologi (analgesic) (D’emeh, Yacoub, & Waleed, 2016).

Rumah Sakit Umum dr.
Slamet Garut merupakan Rumah Sakit tipe B non pendidkan milik pemerintah daerah
Kabupaten Garut, yang menjadi rumah sakit pusat rujukan di Kabupaten Garut, Jawa
Barat. Rumah Sakit Umum dr. Slamet memiliki visi yaitu menjadi kebanggaan
masyarakat Garut yang bisa dipercaya, aman, nyaman, dan terjangkau. Hal ini
mengharuskan rumah sakit untuk dapat memenuhi tuntutan dari masyarakat dengan
memberikan pelayanan kesehatan yang prima dan terjangkau.

x

Hi!
I'm Alejandro!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out